Pengantar Diktat Hukum

Assalamu'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh,

Ma'af untuk konten atau materi yang ada memang tidak semuanya merupakan postingan/tulisan saya sendiri, namun demikian hal tersebut saya maksudkan memang untuk memenuhi subyektifitas tematik.

dan saya memohon ma'af apabila memang ada sebagian dari posting atau tulisan yang tidak atau belum diterbitkan dengan ijin penulis aseli, akantetapi posting/tulisan tersebut tetap saya tampilkan secara aseli beserta penulis, dan bila memang ada yang belum/tidak terdapat nama dan sumber aseli maka sekali lagi saya mohon ma'af atas kealpaan saya hingga lupa dari blog atau/situs mana saya memperolehnya pada saat mengkopi.

sekali lagi harap maklum dan saya akan terima komentar serta kritik melalui media penghubung yang telah saya sediakan.

dikarenakan blog/site ini hanyalah sekedar sarana berbagi materi, teori dan doktrin dalam bidang hukum semata, namun saya usahakan bahwa posting berdasarkan kajian saya pribadi akan saya sampaikan kemudian - dan memang saat ini belum semuanya dapat saya upload dikarenakan sesuatu kepentingan profesional.

blog dari blogger yang punya profesi sebagai praktisi hukum, sekedar share tentang ilmu dan keilmuan hukum secara teori dan praksis serta pengetahuan umum.

terimakasih,

wasalam.


Agung Pramono

Harry Potter dan Peradilan Hukum 11

Buku Seks... Lampaui Harry Potter

Saat Sheridan Simove kehabisan ide menulis buku Apa yang Dipikirkan Pria Selain Seks, ia malah menerbitkan buku itu dengan 200 halaman kosong. Ini malah sukses.

Hanya dengan buku bersampul menarik dan isi 200 halaman kosong, Simove berhasil menipu banyak masyarakat. Bahkan buku itu berhasil mengalahkan penjualan buku Harry Potter dan Da Vinci Code di penjualan buku online Amazon.com.

Buku seharga 4,69 poundsterling (Rp65 ribu) itu malah digunakan sebagai buku catatan mahasiswa. “Saya membeli buku itu awalnya untuk pacar saya. Tapi, dia malah menggunakannya untuk buku catatan uliah. Sekarang, hampir semua orang punya buku itu,” ujar mahasiswa Nottingham University, Jess Lloyd.

Buku ini berada di posisi 744 terlaris, sedangkan buku karangan Dan Brown berjudul Da Vinci Code berada di peringkat 2.910. Sementara buku karangan JK Rowling berjudul Harry Potter dan Orde Phoenix di urutan 2.406.

“Saya tidak pernah menyangka buku itu digunakan mahasiswa untuk menulis catatan kuliah. Mereka membuktikan kesalahan saya dengan mengisi konten buku itu. Tapi saya penasaran apakah mereka akan berpikir soal seks setelah menulis catatan di buku tersebut,” ujar Simove, lulusan Oxford University, Inggris.

sumber: http://namakugusti.wordpress.com/2011/03/15/aneh-200-halaman-kosong-buku-seks-lampaui-harry-potter/

Harry Potter dan Peradilan Hukum 10

'HARRY POTTER' Bakal Dijadikan Film Porno!

Setelah Batman, Superman, dan The Simpsons menjadi inspirasi film dewasa, kali ini giliran film terkenal HARRY POTTER. Bahkan, film porno berdasarkan film penyihir remaja ini akan dimunculkan dalam versi 3D!

Adalah Hustler Video yang berencana mengadaptasi kisah petualangan tiga sahabat, Harry, Ron, dan Hermione, menjadi sebuah film erotis. Film yang akan segera digarap ini bahkan sudah memiliki judul resmi, yakni THIS AIN'T HARRY POTTER XXX 3D.

"Kami sangat bersemangat melanjutkan tren yang kami mulai dengan THIS AIN'T AVATAR XXX 3D dan THIS AIN'T GHOSTBUSTER XXX 3D. Kami mendapat kesempatan untuk belajar dari dua film sebelumnya, terutama yang berhubungan dengan efek 3D, untuk mengubah parodi Harry Potter menjadi sebuah film Hollywood sejati," ungkap Drew Rosenfeld, Creative Director dari Hustler Video.

"Selain itu, dengan Harry, Ron, dan Hermione yang sudah menginjak umur 18 tahun dan semuanya sudah dewasa, ini adalah kesempatan yang bagus untuk memparodikan karakternya, dan mempersembahkan imajinasi kami atas apa yang terjadi di balik pintu-pintu Hogwarts yang tertutup," lanjut sang Director.

Walau sudah sangat pasti akan segera digarap, para pemeran untuk film yang akan dirilis akhir tahun ini masih belum akan ditentukan. Apakah Daniel Radcliffe , Emma Watson , dan Rupert Grint? Oh, no!

sumber: http://id.omg.yahoo.com/news/harry-potter-bakal-dijadikan-film-porno-khjx-0000356175.html

Harry Potter dan Peradilan Hukum 9

Peluncuran Buku Harry Potter Bikin Gerah Kalangan Yahudi Ortodoks di Israel

Peluncuran buku ke-7 sekaligus yang terakhir serial Harry Potter berjudul "Harry Potter and the Deathly Hallows" membuat marah anggota legislatif Israel dari kalangan Yahudi Ortodoks, termasuk Menteri Perdagangan dan Industri Israel, Eli Yishai.

Saking marahnya, mereka mengancam akan mengenakan denda bagi toko-toko buku yang buka dan ikut meluncurkan buku terakhir serial karya penulis Inggris J. K Rowling itu. Apa yang membuat marah kalangan Yahudi Ortodoks dan memperindag Israel itu?

Ternyata peluncuran buku Harry Potter-yang diluncurkan secara serentak di seluruh dunia pada tanggal 21 Juli lusa- jatuh pada pukul 02. 01 dinihari waktu Israel, yang artinya jatuh pada hari Sabtu atau hari Sabbath, hari yang disucikan oleh agama Yahudi. Undang-undang yang berlaku di Israel, mengharuskan semua kegiatan bisnis dihentikan pada hari Sabbath.

"Hukum Israel melarang kalangan pengusaha memaksa para pegawainya bekerja pada hari Sabbath, dan itu juga berlaku dalam kasus ini. Menteri akan mengenakan denda dan menuntut pengusaha yang melanggar aturan hukum itu, " kata Roei Lachmanovich, juru bicara Yishai yang berasal dari partai ultra ortodok Yahudi, Partai Shas.

Avraham Ravitz dari Partai United Torah Judaism juga mengecam buku-buku Harry Potter dan rencana peluncuran yang jatuh pada hari Sabbath. Menurutnya, buku serial Harry Potter berisi "pesan-pesan yang buruk. "

Tapi toko-toko buku di Israel nampaknya tidak mau kehilangan moment untuk menggelar peluncuran bersama buku "Harry Potter and Deathly Hallows" dan rencananya akan tetap membuka tokonya pada Sabtu dinihari itu.

Jaringan toko buku terbesar di Israel 'Steimatzky' bahkan menggelar acara gala di Tel Aviv mulai hari Jumat (20/7) malam dalam rangka peluncuran buku Harry Potter ke-7 dan terakhir itu. Juru bicara toko buku tersebut, Alona Zamir memastikan bahwa mereka tidak akan mengubah waktu acara peluncuran tersebut.

"Kami diminta, sesuai kesepakatan dengan penerbit buku itu, untuk meluncurkannya pada waktu yang sama seperti di tempat-tempat lainnya di dunia, " kata Zamir.

Ia mengatakan, toko bukunya sudah menerima puluhan ribu pesanan buku "Harry Potter and the Deathly Hallows" versi bahasa Inggris yang sudah dibayar di muka. Sedangkan versi bahasa Ibraninya baru akan diterbitkan sekitar akhir tahun 2007. (ln/IHT)

sumber: http://www.eramuslim.com/berita/dunia/peluncuran-buku-harry-potter-bikin-gerah-kalangan-yahudi-ortodoks-di-israel.htm

Harry Potter dan Peradilan Hukum 8

Pelesetkan Harry Potter jadi Merek Kondom, Perusahaan Swiss Digugat

Produser film Harry Potter meradang. Pasalnya, nama tokoh film yang mendunia itu dicatut yang dipelesetkan menjadi merek kondom, Harry Popper.

Mestinya, persoalan tak akan sampai ke ranah hukum andai saja perusahaan pembuatnya, Magic X , tidak menampilkan gambar sang tokoh, Daniel Radcliffe — yang juga dipelesetkan — dalam iklannya.

Dalam iklan versi cetak, Harry Potter tampil dengan ciri khasnya, kaca mata bundar dan tongkat sihir. Tapi lidahnya diperpanjang secara mesum dan berkonotasi seksual.

Tidak mengherankan, tidak semua orang senang. Warner Bros minggu ini menggugat produsen kondom asal Swiss atas pelanggaran hak cipta. “Klien saya dalam bahaya,” keluh pengacara studio itu pada surat kabar Bote Swiss. “Ini jelas merupakan referensi untuk film dan karakter fiksi Harry Potter. Setiap orang yang melihat kondom otomatis berpikir tentang Harry Potter.”

Kondom Harry Popper dilaporkan dipasarkan sejak tahun 2006.

Itu sebabnya, angka gugatan tak main-main, 15 juta poundsterling. Estimasinya, tak hanya Warner Bros yang dirugikan, tapi juga pengarangnya, JK Rowling.

Pada tahun 2008, studio meluncurkan gugatan serupa terhadap produksi filmBollywood berbahasa Hindi berjudul, Hari Puttar: A Comedy of Teror. Gugatan itu akhirnya dibatalkan oleh pengadilan India.

Untuk saat ini, produsen kondom Magic X yang berdiri teguh. “Produk kami tidak ada hubungannya dengan Harry Potter,” ujar seorang juru bicara perusahaan.

sumber: republika.co.id 21/08/2010 21:51:01

Dari gambar di kemasannya, kondom ini jelas mencitrakan Harry Potter. Tak heran jika Warner Brothers menggugat pabriknya, meski sebenarnya merk kondom itu agak berbeda dari nama si penyihir muda yakni Harry Popper.

Kemasan kondom buatan Swiss yang menggunakan warna dasar hitam itu menampilkan gambar kondom bergerigi, yang memiliki wajah berkaca mata bulat dan memegang tongkat sihir dengan tangan kirinya. Persis di bawahnya tertulis merk Harry Popper dengan warna merah yang dibingkai putih.

Produser film Harry Potter, Warner Brothers tentu saja tidak terima dengan merk kondom yang dimirip-miripkan tersebut. Perusahaan yang pada November mendatang akan meluncurkan film terbaru Harry Potter dan video game tentang si penyihir itu mengaku sangat dirugikan.

Melalui juru bicaranya, perusahaan tersebut menilai kondom ini telah mencemarkan Harry Potter yang selalu dicitrakan sangat positif. Bagi Warner Brothers, dengan citra yang demikian maka seharusnya Harry Potter tidak punya urusan dengan kondom.

Dikutip dari Gawker.com, Jumat (20/8/2010), hingga saat ini belum ada tanggapan dari pihak pembuat kondom. Yang jelas produk ini telah meraup sukses sejak pertama kali dipasarkan pada tahun 2006.

sumber: http://hileud.com/hileudnews?title=Film+Harry+Potter+Dirugikan+Perusahaan+Kondom&id=248421

Harry Potter dan Peradilan Hukum 7

 Hari Putar

Sebuah perusahaan film India merilis Hari Putar A Comedy of Terrors. Warner Bros, pemegang hak cipta Harry Potter, berang. "Tak ada kesamaan kami dengan Harry Potter," ujar pihak Mirchi Movies, perusahaan India itu.

Kesuksesan penyihir cilik Harry Potter memang sudah merasuk ke seantero jagad. Penyihir imajiner ciptaan penulis Joanne Kathleen Rowling ini menjadi idola. Akibatnya, banyak yang ingin menumpang ketenarannya. Salah satunya adalah dengan membuat judul-judul yang mirip.
Judul mirip ini, tak pelak, membuat berang Warner Bros (WB). Termasuk berang terhadap Mirchi Movies yang akan merilis komedi bertajuk Hari Puttar A Comedy of Terrors itu pada 12 September. Kendati penulisannya berbeda, WB merasa nama yang digunakan terlalu mirip.

"Kami mengajukan tuntutan secara hukum terhadap Mirchi Movies," ujar Deborah Lincoln, juru bicara WB. Menurutnya, WB harus melindungi nilai dan hak atas properti intelektualitas mereka. Adalah kebijakan WB untuk tidak menjelaskan lebih detil mengenai segala urusan yang terkait dengan hukum.

Sebenarnya, nama Hari cukup populer di India. Sementara Puttar berarti anak lelaki dalam bahasa Punjabi. Film Hari Puttar dibesut sutradara Rajesh Bajaj dan Lucky Kohli. Bintangnya adalah Zain Khan sebagai Hari, didampingi aktor veteran India, Jackie Shroff. Filmnya sendiri menceritakan mengenai seorang bocah berusia 10 tahun yang pindah ke Inggris beserta orang tuanya. Ia terlibat dalam perebutan sebuah microchip rahasia.

"Menurut saya, tidak ada kesamaan antara judul kami dengan Harry Potter," ujar Munish Purii dari Mirchi Movies. Pihaknya telah mendaftarkan nama Hari Puttar pada 2005. "Sayang sekali, WB memilih melayangkan tuntutan yang begitu dekat dengan tanggal rilis film kami."

Sebenarnya alasan yang melatar belakangi tindakan WB untuk menggugat Mirchi Movies tak begitu kuat. Tetapi faktanya, Harry Potter memang kini menjadi sebuah brand yang memiliki nilai jual tinggi. Dari tujuh buku yang ditulis Rowling, lima di antaranya telah difilmkan antara 2001-2007. Masing-masing menembus angka US$ 200 juta. Total pendapatan kelima film ini telah mencapai US$ 1,4 miliar secara internasional.

Beberapa waktu lalu, WB juga menunda perilisan film keenam, Harry Potter and the Half-Blood Prince. Pengunduran selama 8 bulan ke Juli 2009 tersebut disebabkan WB merasa musim panas adalah waktu rilis yang paling sesuai untuk panen revenue. Tengok saja kesuksesan Batman lewat The Dark Knight musim panas tahun ini yang mampu menembus angka US$ 400 juta.

Nilai jual Potter memang sangat tinggi. Begitu larisnya ia, penulisnya pun ikut kecipratan. Majalah Forbes sebelumnya telah memasukkan Rowling sebagai salah satu wanita paling berpengaruh di dunia showbiz. Sepanjang 2007 saja, ia menghasilkan US$ 150 juta untuk ditambahkan lagi pada asetnya yang senilai US$ 1,1 miliar. Kekayaannya ini telah melebihi ratu talk show AS, Oprah Winfrey.

Beberapa pihak pun banyak mengandalkan kesuksesan nama Harry Potter yang sangat menjual. Di Tanah Air sendiri, Harry Potter juga pernah sedikit diplesetkan melalui sebuah sinetron bertajuk Hari Potret. Jelas sekali sinetron ini meniru si penyihir asal Inggris tersebut. Tak hanya judulnya yang mirip, dandanannya juga mirip. Lengkap dengan kacamata bundar, bekas luka berbentuk petir di dahi, hingga sapu terbang.

Rakyat Indonesia pun menyadari bahwa sinetron ini murni menjiplak. Akibatnya, tidak terlalu memiliki nilai jual. Beruntung saja WB tidak melayangkan tuntutan. [I4]

sumber: http://artis.inilah.com/read/detail/46941/hari-putar-goyang-harry-potter 

Harry Potter dan Peradilan Hukum 6

Bintang 'Harry Potter' Akan Dibunuh Ayahnya?

Manchester Pemeran Padma Patil dalam film 'Harry Potter', Afshan Azad, terbelit kasus hukum. Sang ayah, Abdul Azad (54) dan kakaknya, Ashraf (28) diadili dengan tudingan melakukan percobaan pembunuhan terhadap Afshan.

Gadis berusia 22 tahun itu diduga diserang oleh kakak dan ayahnya di rumahnya di Manchester, Inggris pada Mei lalu. Saat itu, artis keturunan India ini bertengkar hebat dengan kakak dan ayahnya gara-gara masalah pacar.

Keluarga meminta Afshan putus dengan sang pacar. Tapi gadis kelahiran 12 Februari 1988 itu menolak permintaan itu. Rupanya penolakan itu membuat sang kakak dan ayahnya marah. Mereka menyerang Afshan hingga ia mengalami luka memar sangat parah.

Abdul Azad dan Ashraf, seperti dilansir Contactmusic, Jumat (2/7/2010), menjalani sidang di Pengadilan Manchester pada 29 Juni lalu dengan dakwaan percobaan pembunuhan terhadap Afshan.

Namun Abdul dan Ashraf dibebaskan dengan denda dan sejumkah syarat. Salah satu syarat dari pembebasan itu adalah 2 pria itu tidak boleh menemui Afshan di rumahnya di London, tempat ia tinggal bersama teman-temannya.

Ashraf tidak mau berkomentar atas kasus ayahnya tersebut. Ia merasa kasus tersebut sebagai masalah yang berat yang bisa mengganggu karirnya. "Saya tidak mau berkomentar apapun," kata Afshan.(iy/hkm)

sumber : http://www.detikhot.com/read/2010/07/02/122930/1391601/230/bintang-harry-potter-akan-dibunuh-ayahnya?h991101207

Harry Potter dan Peradilan Hukum 5

Kota Sihir Seperti di Film Harry Potter

SALEM, Satu-satunya kota Sihir di Dunia nyata.

Kata siapa kalau kota sihir hanya ada di Hogsmeade? Ternyata kota sihir tak hanya ada di Novel Harry Potter karangan penulis JK Rowling. Kota Sihir memang benar-benar ada, Letaknya di Amerika serikat atau lebih tepatnya di Negara bagian Massachusetts. Kota ini secara resmi telah ditetapkan sebagai kota sihir oleh Michael Dukakis, gubernur Massachusetts pada masa itu.

Kota ini ditetapkan sebagai kota sihir karna di Kota ini, pernah terjadi suatu peristiwa yang sangat mengerikan (pastinya ada hubunganya dengan sihir). Yaitu peristiwa The Salem Witch Trials , yaitu peristiwa dimana lebih dari 150 penduduk kota ini ditangkap, diadili, dan dihukum hanya karna dianggap mempraktekan ilmu sihir.

Kota Salem ini berdiri pada tahun tahun 1629. Pada tahun 1641 hukum Inggris mulai diterapkan di kota ini (pada masa itu, Amerika serikat masih terdiri dari koloni-koloni Inggris) Dan salah satu hukum yang ditetapkan di kota ini adalah bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan praktek sihir merupakan pelanggaran berat. Tahun 1688, Martha Goodwin, seorang remaja penduduk lokal disana bertengkar dengan seorang tukang cuci bernama Goode Glover yang memicu kemunculan ilmu sihir ini.

Martha kemudian mendapat penyakit aneh, disusul kemudian saudara lelaki dan kedua adik perempuannya mengalami hal serupa. Glover kemudian ditangkap karna dianggap telah mempraktekan ilmu sihir kepada keluarga Goodwin

Kemudian seorang pendeta bernama Cotton Mather menemui Glover untuk membujul Glover agar segera mengakui perbuatanya, karna jika tidak, maka ia akan dijatuhi hukuman gantung oleh pengadilan setempat. Tapi muka Glover malah menjadi seram dan menakutkan

Kemudian pada tahun baru 1692, Abigail Williams (11 tahun) dan Elizabeth Parris (9 tahun) menderita penyakit yang sama dengan anak-anak keluarga Goodwin empat tahun lalu. Selang kemudian seorang gadis bernama Ann Putnam Jr. dan beberapa gadis lain pun mengalami hal serupa. Pada pertengahan bulan Februari 1692, seorang dokter menganggap apa yang dialami oleh penduduk Salem itu adalah akibat dari ilmu sihir.

Tituba, seorang budak wanita diidentifikasi sebagai orang aneh karena dia pernah memberi makan anjingnya sepotong kue buatannya yang diberi nama kue sihir beberapa hari sebelumnya. Beberapa penduduk lain menuduh Sarah Good dan Sarah Osborne sebagai penyihir. John Hathorne dan Jonathan Corwin dari kepolisian setempat memeriksa Tituba, Sarah Good dan Sarah Osborne atas tuduhan itu. Tituba mengaku bahwa praktek sihirnya didapat dari Goode Glover dan Sarah Osborne.

Kemudian ada tiga orang bernama Mercy Lewis, Mary Walcott dan Mary Warren mengaku tertular penyakit aneh dari Ann Putnam Jr. Ann menuduh Martha Cory adalah seorang penyihir, begitu pula Abigail Williams menuduh Rebecca Nurse. Deputi Samuel Brabrook juga menangkap Dorcas Good yang kemudian diperiksa oleh kedua polisi Hathrone dan Corwin, mereka juga menangkap Rebecca Nurse.

Selanjutnya Elizabeth Proctor dan Sarah Cloyce (adik dari Rebecca Nurse) dituduh sebagai penyihir, setelah Sarah Cloyce membela habis-habisan kakaknya dan mengatakan bahwa kakaknya itu bukan penyihir. Hal yang sama terjadi pada John (suami dari Elizabeth Proctor) sewaktu dia membela istrinya dan menjadikan dia lelaki pertama yang tertuduh sebagai penyihir. Aksi tuduh menuduh inipun semakin berkembang dan membuat banyak orang ditangkap (baik lelaki maupun perempuan) dan dimasukan ke penjara.

Tanggal 27 Mei 1692, keadaan kota Salem semakin memanas. Pengadilan pun digelar. Bridget Bishop adalah wanita pertama yang diadili karena Elizabeth Booth (perempuan yang menuduhnya penyihir) terbukti mendapat gejala penyakit aneh tersebut, Bridget Bishop-pun dihukum gantung. Selanjutnya Rebecca Nurse, Susannah Martin, Elizabeth Howe, Sarah Good dan Sarah Wildes diadili dan mereka pun digantung di Gallows Hill. Kemudian George Jacobs Sr., Martha Carrier, George Burroughs, John Willard, John and Elizabeth Proctor diumumkan bersalah dan mereka pun juga digantung, kecuali Elizabeth Proctor karena dia sedang mengandung. Disusul Martha Corey, Mary Easty, Alice Parker, Ann Pudeator, Dorcas Hoar dan Mary Bradbury. Tuduhan penyihir pun bertambah dengar hadirnya Giles Cory.

17 September 1692, Margaret Scott, Wilmott Redd, Samuel Wardwell, Mary Parker, Abigail Faulkner, Rebecca Earnes, Mary Lacy, Ann Foster dan Abigail Hobbs diadili dan dijatuhi hukuman gantung. Apa yang dialami Giles Cory lebih sadis dan mengerikan, lelaki itu ditindih dengan batu besar sampai mati karena dia menolak untuk mengakui kesalahannya dan itu memakan waktu dua hari hingga dia tewas. Beberapa hari kemudian Martha Cory, Margaret Scott, Mary Easty, Alice Parker, Ann Pudeator, Willmott Redd, Samuel Wardwell dan Mary Parker dihukum gantung.

Tanggal 3 Oktober 1692, Pendeta Increase Mather, presiden dari Harvard College (ayah dari Pendeta Cotton Mather) mengumumkan cara penggunaan bukti-bukti sihir di pengadilan. Tetapi Gubernur Phipps mengatakan bahwa bukti-bukti itu tidak berlaku pada pengadilan ilmu sihir. Pada musim gugur, Gubernur Phipps membebaskan beberapa tersangka yang tidak cukup bukti. Hakim Stoughton mendapat perintah dari Gubernur untuk melanjutkan proses pengadilan ilmu sihir dan menghukum gantung para wanita walaupun mereka sedang hamil, dikarenakan itulah Hakim Stoughton mundur dari jabatannya sebagai Hakim kota.

Akhirnya, 49 dari 52 orang tersangka dibebaskan termasuk Tituba yang kemudian dijual kepada tuannya yang baru. Pada musim panas Gubernur Phipps memohon maaf kepada seluruh tersangka yang masih tersisa di dalam penjara. Hingga tahun 1697 Pengadilan kota mengakui kesalahan telah memenjarakan dan menghukum mati banyak orang tanpa bukti yang jelas dan menentukan hari puasa dan soul-searching atas tragedi di kota Salem itu. Mereka pun mendeklarasikan bahwa tahun 1692 sebagai tahun tanpa hukum.

Kini, Kota salem kemudian menjadi sebuah kota wisata yang sarat akan nilai supranatural. Peristiwa The Salem Witch Trials sampai sekarang masih dikenang dan pengunjung kota Salem masih bisa melihat. Seperti di The Witch House, rumah milik Hakim Jonathan Corwin, salah satu hakim dalam peristiwa Salem Witchcraft Trials. Bangunan ini sekarang milik Departemen Taman dan Rekreasi kota Salem dan dijadikan tujuan wisata lengkap dengan program tur keliling, wisata sejarah, dan wisata arsitektur. Selain itu, turis juga bisa mengunjungi The Salem Witch Museum. Di museum ini pengunjung benar-benar seperti dibawa kembali ke peristiwa mengerikan tersebut. Di museum itu ada pertunjukan drama teater, narasi dan dialog serta cuplikan persidangan peristiwa itu. Ada juga tur keliling menyaksikan sel-sel penjara buatan lengkap dengan patung-patung terpidana yang mirip manusia asli.

Sekarang di kota ini memang banyak penduduk kota Salem yang memang seorang Penyihir, atau lebih cocok disebut sebagai paranormal. tapi walau begitu, jangan harap anda bisa menemukan penyihir yang berpenampilan seperti Harry Potter disini kecuali pada malam Hallowen.

Sumber: http://kumpulan-artikel-menarik.blogspot.com

Harry Potter dan Peradilan Hukum 4

Belum saja diputar, film Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1 sudah bikin heboh. Studio Warner Bros mengungkapkan bahwa pihaknya telah kecolongan, di mana potongan film tersebut telah bocor di dunia maya. Sejak awal pekan ini, pihaknya mengklaim terus berupaya menghapus kebocoran 36 menit dari durasi utuh 2 jam 30 menit dari film baru Harry Potter tersebut.

Juru bicara Warner mengatakan, potongan film tersebut sudah menyebar secara luas di sejumlah negara sejak Selasa (16/11/2010) lalu. Pihaknya menduga kuat telah terjadi tindakan ilegal dan hal tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hak cipta dan pencurian properti Warner Bros.

"Kami bekerja secara aktif untuk membatasi dan atau menghapus salinan-salinannya yang mungkin tersedia. Selain itu, kami juga menyelidiki hal ini dan akan menuntut mereka yang terlibat secara hukum," kata juru bicara Warner Bros.

Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1 merupakan seri ketujuh dari film yang kisahnya diangkat dari buku penulis JK Rowling. Dalam penyajiannya, seri terakhir Harry Potter ini telah dibagi menjadi dua film. Seri pertamanya sudah mulai dirilis secara internasional pada Jumat (19/11/2010) ini. Sementara episode kedua dari Harry Potter and the Deathly Hallows, yang ditampilkan dalam bentuk 3D, akan dirilis pada Juli 2011 nanti.

Sutradara David Yates dalam film kali ini lebih menampilkan banyak konflik dan jauh lebih gelap. Dalam seri ini, Voldermort, tokoh villain (jahat), berusaha membunuh Harry dengan tangannya sendiri. Ia berharap kematian Harry dapat menambah kekuatannya yang tak tertandingi.

Sumber : ANT - http://entertainment.kompas.com/read/2010/11/19/16153294/Film.Harry.Potter.Dicolong

Harry Potter dan Peradilan Hukum 3

J.K. Rowling Bantah Lakukan Penjiplakan Ide

SYDNEY-J.K. Rowling kini harus berurusan dengan aparat hukum. Pengarang buku tersukses sepanjang sejarah tersebut dituduh menjiplak ide orang lain untuk serial buku Harry Potter. Rowling dituduh menjiplak ide penulis Adrian Jacobs. Sidang kasus itu dihelat Juni mendatang dengan penggugat kuasa hukum Jacobs, yang buku-bukunya diterbitkan oleh penerbit yang berbasis di Australia. Kasus tersebut didaftarkan di pengadilan London Rabu (17/ 2) lalu dengan tergugat Bloomsbury Publishing selaku penerbit dan Rowling sebagai penulis.

Dikutip dari Associated Press kemarin (18/2), menurut kuasa hukum Jacobs, serial Harry Potter yang berjudul Harry Potter and the Goblet of Fire menjiplak habis-habisan buku karya Jacobs yang diterbitkan pada 1987, yakni The Adventures of Willy Wizard-No 1 Livid Land. Selain itu, penggugat menilai, banyak ide Jacobs yang dicuri dan digunakan oleh Rowling dalam tujuh serial Harry Potter. Jacobs sendiri sudah meninggal di London pada 1997.

Menurut wakil kuasa hukum Jacobs di Sydney, Max Markson. itu adalah kasus besar. "Sebuah kasus dengan miliaran dolar dipertaruhkan. Saya sudah tak sabar untuk menunggu waktu sidang kelak," ungkap dia. Menanggapi itu Rowling langsung memberi bantahan. Ditulis situs Daily Telegraph Rowling mengatakan tuduhan itu tak beralasan. "Saya sedih dengan klaim itu. Kenyataanya saya ndak pernah membaca buku tersebut sampai mereka kali pertama mengajukan klaim bohong ini pada 2004 lalu," kata Rowling.

Rowling akan melakukan mendaftarkan permintaan kepada pengadilan untuk membatalkan kasus tersebut dengan alasan tidak layak. "Saya akan ke Pengadilan segera. Kasus ini harus dibatalkan tanpa penundaan," katanya, (ayi)

sumber: http://bataviase.co.id/node/102903

Harry Potter dan Peradilan Hukum 2

JK Rowling-Warner Bros Tuntut Ensiklopedi Tak Resmi 'HARRY POTTER'

Kapanlagi.com - Satu buku yang dirancang sebagai ensiklopedi tak resmi yang menyertai seri HARRY POTTER melanggar hak cipta dan merupakan upaya untuk mengeruk uang dengan memanfaatkan nama buku yang sudah tenar itu, kata penulis buku tersebut, JK Rowling dan Warner Bros., ketika mereka mengajukan tuntutan hukum, Rabu.

Buku setebal 400 halaman itu, THE HARRY POTTER LEXICON - yang dijadwalkan diluncurkan oleh RDR Boooks pada 28 November di Amerika Serikat, secara tidak tepat telah merujuk kepada lingkungan dan para tokoh fiksi karya Rowling, kata Rowling dan Warner Bros..

RDR Books menyatakan penulis buku rujukan itu, Steve Vander Ark, mendasarinya pada laman Internet fannya, www.hp-lexicon.org, yang digunakan 25 juta pengunjung dan telah disebut sebagai "tempat besar" oleh Rowling sendiri.

Dalam suatu pernyataan Rabu, Rowling mengatakan sekalipun ia mencintai laman fan, ia berharap untuk menulis ensiklopedi definitif HARRY POTTER, yang akan meliputi semua bahan yang tak pernah dibuatnya jadi novel, dan menyumbangkan hasilnya kepada badan amal.

"Oleh karena itu, kami menyetujui 'buku pendamping' atau 'ensiklopedi' yang berusaha mendahului buku rujukan definitif HARRY POTTER saya untuk manfaat pribadi penulisnya sendiri," katanya.

Tuntutan hukum tersebut menyebut RDR Books, penerbit independen yang berpusat di Michigan, dan orang yang tak disebutkan sebagai tersangka.

Tuntutan itu mengupayakan ganti rugi bagi hak cipta dan pelanggaran tanda dagang federal dan setiap keuntungan yang diperoleh dari buku tersebut. "Buku yang melanggar itu sangat mengganggu karena itu merupakan pelanggaran langsung terhadap keinginan yang berulang-kali disampaikan oleh Nona Rowling untuk menerbitkan bukunya sendiri yang menyertai seri tersebut," demikian isi tuntutan hukum itu, yang diajukan ke pengadilan federal di Manhattan.

Roger Rapoport, penerbit dan pemilik RDR Books, mengatakan Vander Ark, seorang pustakawan, telah berbicara pada konferensi akademis Harry Potter di Inggris, Kanada, dan Amerika Serikat dan garis waktu yang ia ciptakan digunakan oleh Warner Bros. dalam DVD yang meluncurkan film HARRY POTTER.

"Buku yang akan terbit itu hanya mendorong penjualan karya JK Rowling dan kami bermaksud menerbitkannya sesuai jadwal yang direncanakan," kata Rapoport.

Warner Bros., satuan dari Time Warner Inc., yang memegang hak cipta dan hak mereka dagang bagi ketujuh buku HARRY POTTER, mengatakan dalam suatu pernyataan perusahaan tersebut sedang berusaha melindungi hak Rowling untuk menerbitkan buku yang menyertai "Harry Potter" pada masa depan. (*/erl)

sumber: http://www.kapanlagi.com/showbiz/hollywood/jk-rowling-warner-bros-tuntut-ensiklopedi-tak-resmi-harry-potter-4agssmf_print.html

Harry Potter dan Peradilan Hukum

Harry Potter and the Order of the Phoenix


-- Bab 8 --
Dengar Pendapat

Harry terkesiap, dia tidak bisa menahan diri. Ruang bawah tanah besar yang dimasukinya tampak sudah dikenalnya. Dia bukan hanya pernah melihatnya, dia sudah perbah berada di sini sebelumnya. Ini adalah tempat di mana dia telah menyaksikan keluarga Lestrange divonis hukuman seumur hidup di Azkaban. 

Dinding-dindingnya terbuat dari batu gelap yang diterangi oleh obor-obor. Bangku-bangku kosong berada di kedua sisinya, tetapi di depan, di bangku-bangku tertinggi, ada banyak figur-figur berbayang. Mereka berbicara dengan suara rendah, tetapi ketika pintu berat itu mengayun tertutup di belakang Harry timbul keheningan yang tidak menyenangkan. 

Sebuah suara pria yang dingin berdering menyeberangi ruang sidang. 

'Kamu terlambat.' 

'Sori,' kata Harry dengan gugup. 'Aku -- aku tidak tahu waktunya sudah diganti.' 

'Itu bukan kesalahan Wizwngamot,' kata suara itu. 'Seekor burung hantu telah dikirim ke tempatmu pagi ini. Duduklah.' 

Harry melayangkan pandangan ke kursi di tengah ruangan, yang lengan-lengannya ditutupi rantai-rantai. Dia sudah pernah melihat mereka menjadi hidup dan mengikat siapapun yang duduk di antara mereka. Langkah-langkah kakinya menggema keras selagi dia berjalan menyeberangi lantai batu. Ketika dia duduk dengan hati-hati di ujung kursi itu rantai-rantainya berdenting mengancam tetapi tidak mengikatnya. Merasa agak sakit, dia melihat ke atas ke orang-orang yang duduk di bangku-bangku di atas. 

Adasekitar lima puluh dari mereka, semuanya, sejauh yang bisa dilihatnya, mengenakan jubah-jubah berwarna plum dengan huruf perak 'W' yang penuh hiasan di sisi kirii dada dan semuanya menatap ke bawah hidung mereka kepadanya, bebrapa dengan ekspresi yang amat keras, yang lainnya tampang-tampang keingintahuan yang jelas. 

Di bagian paling tengah dari baris depan duduk Cornelius Fudge, Menteri Sihir. Fudge adalah seorang pria yang gemuk yang sering memakai sebuah topi bowler hijau-limau, walaupun hari ini dia tidak memakainya; dia juga tidak memakai senyum ramah yang pernah digunakannya ketika berbicara kepada Harry. Seorang penyihir wanita dengan rahang lebar dan persegi yang berambut kelabu sangat pendek duduk di sebelah kiri Fudge; dia mengenakan kacamata berlensa satu dan terlihat menakutkan. Di sisi kanan Fudge ada seorang penyihir wanita lagi, tetapi dia duduk demikian jauh ke belakang sehingga wajahnya berada dalam bayang-bayang. 

'Baiklah,' kata Fudge. 'Tertuduh telah hadir -- akhirnya -- mari kita mulai. Apakah kamu sudah siap?' dia memanggil ke ujung barisan. 

'Ya, sir,' kata sebuah suara bersemangat yang dikenal Harry. Kakak Ron Percy sedang duduk di bagian terujung bangku depan. Harry melihat kepada Percy, mengharapkan beberapa tanda pengenalan darinya, tetapi tidak ada yang datang. Mata Percy, di balik kacamata tanduknya, terpaku pada perkamennya, dengan sebuah pena bulu berada di tangannya. 

'Sidang dengar pendapat kedisiplinan pada tanggal dua belas Agustus,' kata Fudge dengan suara berdering, dan Percy mulai mencatat seketika, 'pada pelanggaran yang dilakukan terhadap Dekrit Pembatasan Masuk Akal bagi Penggunaan Sihir di Bawah Umur dan Undang-Undang KErahasiaan Internasional oleh Harry James Potter, penduduk di nomor empat, Privet Drive, Little Whinging, Surrey. 

'Para penginterogasi: Cornelius Oswald Fudge, Menteri Sihir; Amelia Susan Bones, Kepala Departemen Penegakan Hukum Sihir; Dolores Jane Umbridge, Menteri Muda Senior terhadap Menteri. Notulen sidang, Percy Ignatius Weasley --' 

'Saksi untuk pembelaan, Albus Percival Wulfric Brian Dumbledore,' kata sebuah suara tenang dari belakang Harry, yang memalingkan kepalanya begitu cepat sehingga lehernya jadi kaku. 

Dumbledore sedang melangkah dengan tenang menyeberangi ruangan mengenakan jubah biru-tengah malam yang panjang dan ekspresi benar-benar tenang. Janggut dan rambut peraknya yang panjang berkilau dalam cahaya obor ketika dia berada sejajar dengan Harry dan melihat kepada Fudge melalui kacamata setengah-bulan yang terjepit di tengah hidungnya yang sangat bengkok. 

Para anggota Wizengamot saling bergumam. Semua mata sekarang tertuju pada Dumbledore. Beberapa terlihat jengkel, yang lain sedikit ketakutan; namun dua penyihir wanita tua di baris belakang mengangkat tangan mereka dan melambai menyambut. 

Sebuah emosi yang kuat telah timbul di dada Harry saat melihat Dumbledore, sebuah perasaan terlindung dan penuh harapan yang mirip dengan yang diberikan nyanyian phoenix kepadanya. Dia ingin melihat ke mata Dumbledore, tetapi Dumbledore tidak melihat ke arahnya; dia terus melihat ke atas pada Fudge yang jelas terganggu. 

'Ah,' kata Fudge, yang terlihat sangat bingung. 'Dumbledore. Ya. Kalau begitu, Anda -- mendapat -- er -- pesan kami bahwa waktu dan -- er -- tempat sidang telah diubah?' 

'Aku pasti ketinggalan pesan itu,' kata Dumbledore dengan ceria. 'Namun karena kesalahan yang menguntungkan aku tiba di Kementerian tiga jam lebih cepat, jadi tidak ada yang rugi.' 

'Ya -- well -- kurasa kita akan butuh satu kursi lagi -- aku -- Weasley, bisakah kamu --? 

'Tidak usah khawatir, tidak usah khawatir,' kata Dumbledore dengan menyenangkan; dia mengeluarkan tongkatnya, melambaikannya sedikit, dan sebuah kursi berlengan empuk dari kain muncul entah darimana di samping Harry. Dumbledore duduk, menggabungkan ujung-ujung jarinya yang panjang dan mengamati Fudge melewati jarin-jarinya dengan ekspresi tertarik yang sopan. Wizengamot masih bergumam dan bertingkah gelisah; hanya ketika Fudge berbicara lagi barulah mereka tenang. 

'Ya,' kata Fudge lagi, sambil mengocok catatan-catatannya. 'Well, kalau begitu. Jadi. Tuntutannya. Ya.' 

Dia mengeluarkan sepotong perkamen dari tumpukan di hadapannya, mengambil napad dalam-dalam, membacakan, 'Tuntutan melawan tertuduh adalah sebagai berikut: 

'Bahwa dia dengan sengaja dan sadar dan sepenuhnya menyadari tindakannya bertentangan dengan hukum, setelah menerima peringatan tertulis sebelumnya dari Kementerian Sihir atas tuduhan serupa, menghasilkan Mantera Patronus di daerah tempat tinggal Muggle, dengan kehadiran seorang Muggle, pada tanggal dua Agustus pukul sembilan lewat dua puluh tiga, yang melanggar Paragraf C dari Dekrit Pembatasan Masuk Akal bagi Penggunaan Sihir di Bawah Umur, 1875, dan juga Seksi 13 dari Undang-Undang Kerahasiaan Konfederasi Penyihir Internasional. 

'Kamu adalah Harry James Potter, dari nomor empat, Privet Drive, Little Whinging, Surrey?' Fudge berkata sambil melotot pada Harry dari puncak perkamennya. 

'Ya,' kata Harry. 

'Kamu menerima sebuah peringatan resmi dari Kementerian karena menggunakan sihir ilegal tiga tahun yang lalu, bukankah begitu?' 

'Ya, tapi --' 

'Dan kamu masih menghasilkan sebuah Patronus pada malam dua Agustus?' kata Fudge. 

'Ya,' kata Harry, 'tapi --' 

'Tahu bahwa kamu tidak dibolehkan menggunakan sihir di luar sekolah selagi kamu di bawah umur tujuh belas?' 

'Ya, tapi --' 

'Tahu bahwa kamu berada di daerah penuh Muggle?' 

'Ya, tapi --' 

'Sadar sepenuhnya bahwa kamu berada sangat dekat dengan seorang Muggle pada saat itu?'

'Ya,' kata Harry dengan marah, 'tapi aku hanya menggunakannya karena kami --' 

Panyihir wanita berkacamata lensa satu menyelanya dengan suara menggelegar. 

'Kamu menghasilkan Patronus terlatih?' 

'Ya,' kata Harry, 'karena --' 

'Sebuah Patronus korporeal?' 

'Sebuah -- apa?' kata Harry. 

'Patronusmu punya bentuk yang tampak jelas? Maksudku, lebih dari sekedar uap atau asap?' 

'Ya,' kata Harry, merasa tidak sabar sekaligus sedikit putus asa, 'bentuknya kijang jantan, selalu kijang jantan.' 

'Selalu?' gelegar Madam Bones. 'Kamu sudah pernah menghasilkan Patronus sebelum sekarang?' 

'Ya,' kata Harry, 'aku sudah melakukannya selama lebih dari setahun.' 

'Dan kamu berumur lima belas tahun?' 

'Ya, dan --' 

'Kamu mempelajari hal ini di sekolah?' 

'Ya, Profesor Lupin mengajari saya di tahun ketiga saya, karena --' 

'Mengesankan,' kata Madam Bones, sambil menatapnya, 'Patronus sejati pada usianya ... sangat mengesankan.' 

Beberapa penyihir di sekitarnya bergumam lagi; sedikit mengangguk, tetapi yang lain merengut dan menggelengkan kepala-kepala mereka. 

'Bukan soal seberapa mengesankannya sihir itu,' kata Fudge dengan suara tidak sabar. 'Bahkan menurutku semakin mengesankan semakin buruk jadinya, mengingat bocah itu melakukannya dalam pandangan jelas seorang Muggle.' 

'Aku melakukannya karena Dementor!' dia berkata dengan keras, sebelum orang lain bisa menyelanya lagi. 

Dia telah mengharapkan gumaman lagi, tetapi keheningan yang timbul kelihatan jauh lebih pekat dari sebelumnya. 

'Dementor?' kata Madam Bones setelah beberapa saat, alisnya yang tebal menaik hingga kacamata berlensa satunya terlihat akan jatuh. 'Apa maksudmu, nak?' 

'Maksudku ada dua Dementor di gang dan mereka menyerang aku dan sepupuku!' 

'Aha!' kata Fudge lagi, sambil menyeringai tidak menyenangkan ketika dia memandang berkeliling pada Wizengamot, seakan-akan mengajak mereka berbagi lelucon. 'Ya. Ya. Sudah kukira kita akan mendengar sesuatu seperti ini.' 

'Dementor di Little Whinging?' Madam Bones berkata, dengan nada terkejut sekali. 'Aku tidak mengerti --' 

'Tidakkah kau, Amelia?' kata Fudge, masih menyeringai. 'Mari kujelaskan. Dia telah memikirkannya terus dan memutuskan Dumbledore akan membuat cerita pengantar yang sangat bagus, memang sangat bagus. Para Muggle tidak bisa melihat Dementor, benar kan, nak? Sangat sesuai, sangat sesuai ... jadi itu cuma perkataanmu dan tidak ada saksi ...' 

'Aku tidak bohong!' kata Harry dengan keras, melawan pecahnya gumaman lagi dari sidang. 'Ada dua, datangnya dari ujung-ujung gang yang berlawanan, semua jadi gelap dan dingin dan sepupuku merasakan mereka dan lari --' 

'Cukup, cukup!' kata Fudge dengan tampang sangat congkak di wajahnya. 'Aku menyesal harus menyela apa yang kuyakin pasti sebuah cerita yang terlatih dengan baik --' 

Dumbledore mengencerkan tenggorokannya. Wizengamot terdiam lagi. 

'Kenyataannya, kami memang punya seorang saksi akan kehadiran Dementor di gang itu,' dia berkata, 'selain Dudley Dursley, maksudku.' 

Wajah gemuk Fludge terlihat mengendur, seakan-akan seseorang telah mengeluarkan udara darinya. Dia memandang ke Dumbledore sejenak atau dua, dengan penampilan seorang lelaki yang menguatkan dirinya kembali, berkata, 'Kutakutkan kita tidak punya waktu untuk mendengarkan kebohongan lagi, Dumbledore, aku mau ini diatasi dengan cepat --' 

'Aku mungkin salah,' kata Dumbledore dengan menyenangkan, 'tapi aku yakin bahwa di bawah Piagam Hak-Hak Wizengamot, tertuduh mempunyai hak untuk menghadirkan saksi-saksi bagi kasusnya? Bukankah itu kebijakan Departemen Penegakan Hukum Sihir, Madam Bones?' dia meneruskan sambil berbicara kepada penyihir wanita yang memakai kacamata berlensa satu. 

'Benar,' kata Madam Bones. 'Sangat benar.' 

'Oh, baiklah, baiklah,' kata Fudge dengan tajam. 'Di mana orang ini?' 

'Aku membawanya bersamaku,' kata Dumbledore. 'Dia tepat di luar pintu. Haruskah aku --' 

'Tidak -- Weasley, kamu pergi,' Fudge menghardik Percy, yang bangkit seketika, berlari menuruni tangga-tangga batu dari balkon hakim dan bergegas melewati Dumbledore dan Harry tanpa melirik sekilaspun pada mereka. 

Sejenak kemudian, Percy kembali, diikuti oleh Mrs Figg. Dia tampak takut dan lebih sinting dari sebelumnya. Harry berharap dia berpikir untuk mengganti selop karpetnya.

Dumbledore berdiri dan memberikan kursinya kepada Mrs Figg, menyihir kursi kedua untuk dirinya sendiri. 

'Nama lengkap?' kata Fudge dengan keras, ketika Mrs Figg telah duduk dengan gugup di ujung kursi. 

'Arabella Doreen Figg,' kata Mrs Figg dengan suara bergetar. 

'Dan siapa sebenarnya Anda?' kata Fudge dengan suara bosan dan angkuh. 

'Aku penduduk Little Whinging, dekat dengan tempat Harry tinggal,' kata Mrs Figg. 

'Kami tidak punya catatan adanya penyihir wanita ataupun pria yang tinggal di Little Whinging, selain Harry Potter,' kata Madam Bones seketika. 'Daerah itu selalu diawasi dengan ketat, mengingat ... mengingat kejadian-kejadian di masa lalu.' 

'Aku seorang Squib,' kata Mrs Figg. 'Jadi kalian tidak akan mencatat aku, 'kan?' 

'Seorang Squib, eh?' kata Fudge sambil mengamati dia lekat-lekat. 'Kami akan mengecek hal itu. Anda harus meninggalkan detil-detil keturunan Anda dengan asisten saya Weasley. Sehubungan dengan itu, bisakah Squib melihat Dementor?' dia menambahkan sambil melihat ke kiri dan ke kanan sepanjang bangku itu. 

'Ya, kami bisa!' kata Mrs Figg marah. 

Fudge melihat kembali kepadanya dengan alis terangkat. 'Baiklah,' dia berkata dengan dingin. 'Apa ceritamu?' 

'Aku pergi keluar untuk membeli makanan kucing dari toko di sudut jalan di ujung Wisteria Walk, sekitar pukul sembilan, pada malam dua Agustus,' Mrs Figg berkata cepat-cepat dengan kurang jelas dan seketika, seakan-akan dia telah mempelajari dalam hati apa yang akan dikatakannya, 'ketika aku mendengar keributan di gang antara Magnolia Crescent dan Wisteria Walk. Sewaktu menghampiri mulut gang aku melihat Dementor berlari --' 

'Berlari?' kata Madam Bones dengan tajam. 'Dementor tidak berlari, mereka melayang.' 

'Itu yang kumaksudkan,' kata Mrs Figg dengan cepat, semburat merah muda timbul di pipinya yang keriput. 'Melayang menyusuri gang menuju apa yang tampak seperti dua anak lelaki.' 

'Bagaimana tampang mereka?' kata Madam Bones, menyipitkan matanya sehingga tepi kacamatanya menghilang ke dagingnya.

'Well, yang satu sangat besar dan yang lain agak kurus --'

'Bukan, bukan,' kata Madam Bones tidak sabar. 'Para Dementor ... gambarkan mereka.'

'Oh,' kata Mrs Figg, rona merah mudanya telah menjalar ke lehernya sekarang. 'Mereka besar. Besar dan memakai jubah,'

Harry merasakan depresi yang mengerikan di dasar perutnya. Apapun yang mungkin dikatakan Mrs Figg, baginya terdengar seolah-olah hal terjauh yang pernah dilakukannya dilihatnya adalah gambar Dementor, dan sebuah gambar tidak akan mengungkapkan kebenaran mengenai seperti apa makhluk-makhluk ini: cara mereka bergerak yang menakutkan, melayang-layang beberapa inci di atas tanah; atau bau busuk mereka; atau suara berderak mengerikan yang dibuat ketika mereka mengisap udara sekitar ...

Di baris kedua, seorang penyihir gemuk pendek dengan kumis hitam besar bersandar mendekat untuk berbisik ke telinga tetangganya, seorang penyihir wanita berambut ikal. Dia menyeringai dan mengangguk.

'Besar dan mengenakan jubah,' ulang Madam Bones dengan dingin, sementara Fudge mendengus mengejek. 'Aku mengerti. Ada lagi yang lain?'

'Ya,' kata Mrs Figg. 'Aku merasakan mereka. Semua jadi dingin, dan ini adalah malam musim panas yang sangat hangat, camkan itu. Dan aku merasa ... seakan-akan semua kebahagiaan telah hilang dari dunia ini ... dan aku ingat ... hal-hal yang mengerikan ...'

Suaranya bergetar dan diam.

Mata Madam Bones melebar sedikit. Harry bisa melihat tanda-tanda merah di bawah alisnya di mana kacamatanya tertancap tadi.

'Apa yang dilakukan Dementor itu?' dia bertanya, dan Harry merasakan serbuan harapan.

'Mereka mengejar anak-anak itu,' kata Mrs Figg, suaranya lebih kuat dan lebih percaya diri sekarang, rona merah muda mulai menghilang dari wajahnya. 'Salah satunya terjatuh. Yang lain sedang mundur, mencoba untuk menghalau Dementor. Itu Harry. Dia mencoba dua kali dan hanya menghasilkan uap perak. Pada percobaan ketiga, dia menghasilkan Patronus, yang menyerang Dementor pertama dan kemudian, dengan dorongannya, mengejar Dementor kedua menjauh dari sepupunya. Dan itulah ... itulah yang terjadi,' Mrs Figg menyelesaikan dengan agak tertegun.

Madam Bones memandang Mrs Figg dalam keheningan. Fudge sedang tidak melihat kepadanya sama sekali, tetapi sedang mengutak-atik kertas-kertasnya. Akhirnya, dia menaikkan matanya dan berkata, dengan agak agresif, 'Itu yang Anda lihat, bukan?'

'Itu yang terjadi,' Mrs Figg mengulangi.

'Baiklah,' kata Fudge. 'Anda boleh pergi.'

Mrs Figg memberi pandangan takut dari Fudge ke Dumbledore, lalu bangkit dan berjalan dengan kaki terseret menuju pintu. Harry mendengarnya berdebuk menutup di belakangnya.
'Bukan saksi yang amat meyakinkan,' kata Fudge dengan angkuh.

'Oh, aku tidak tahu,' kata Madam Bones dengan suaranya yang menggelegar. 'Dia benar-benar menggambarkan efek serangan Dementor dengan sangat akurat. Aku tidak dapat membayangkan mengapa dia akan berkata mereka ada di sana kalau memang tidak.'

'Tetapi Dementor berkeliaran ke kediaman Muggle dan hanya kebetulan bertemu dengan seorang penyihir?' dengus Fudge. 'Kemungkinannya pastilah sangat, sangat kecil. Bahkan Bagman sekalipun tidak akan bertaruh --'

'Oh, aku tidak mengira satupun dari kita percaya bahwa Dementor itu ada di sana karena kebetulan,' kata Dumbledore dengan ringan.

Penyihir wanita yang duduk di sebelah kanan Fudge, dengan wajah dalam bayang-bayang, bergerak sedikit tetapi semua orang lainnya tetap diam dan tidak bersuara.

'Apa apa maksudmu itu?' Fudge bertanya dengan dingin.

'Maksudnya kukira mereka diperintahkan ke sana,' kata Dumbledore.

'Aku kira kita pasti akan punya catatan kalau seseorang menyuruh sepasang Dementor pergi berjalan-jalan ke Little Whinging!' hardik Fudge.

'Tidak kalau Dementor-Dementor itu menuruti perintah dari seseorang di luar Kementerian Sihir akhir-akhir ini,' kata Dumbledore dengan tenang. 'Aku sudah memberimu pandanganku mengenai hal ini, Cornelius.'

'Ya, memang,' kata Fudge penuh tenaga, 'dan aku tidak punya alasan untuk percaya bahwa pandangan-pandanganmu bukan omong kosong, Dumbledore. Para Dementor tetap berada di Azkaban dan sedang melakukan segala hal yang kita minta kepada mereka.'

'Kalau begitu,' kata Dumbledore dengan pelan tetapi jelas, 'kita harus bertanya kepada diri kita sendiri mengapa seseorang di dalam Kementerian menyuruh sepasang Dementor ke gang itu pada tanggal dua Agustus.'

Dalam keheningan total yang menyambut kata-kata ini, penyihir wanita di sisi kanan Fudge bersandar ke depan sehingga Harry melihatnya untuk pertama kalinya.

Dia berpikir wanita itu tampak seperti seekor katak besar yang pucat. Dia agak gemuk-pendek dengan wajah lebar dan kendur, lehernya sama sedikitnya dengan Paman Vernon dan mulut yang sangat lebar dan kendur. Matanya besar, bundar dan agak menonjol. Bahkan pita beludru hitam kecil yang bertengger di bagian atas rambutnya yang keriting pendek mengingatkan pada seekor lalat besar yang baru akan ditangkapnya dengan lidah panjang yang lengket.

'Ketua mengenali Dolores Jane Umbridge, Menteri Muda Senior terhadap Menteri,' kata Fudge.
Penyihir wanita itu berbicara dengan suara gugup bernada tinggi seperti anak perempuan yang membuat Harry terkesima; dia telah mengharapkan bunyi kuak.

'Aku yakin aku telah salah mengerti Anda, Profesor Dumbledore,' katanya, dengan sebuah senyum simpul tapi matanya yang besar dan bundar masih sedingin sebelumnya. 'Bodohnya aku. Tapi sejenak kedengarannya seolah-olah Anda menuduh Kementerian Sihir telah memerintahkan penyerangan terhadap anak ini!' 

Dia mengeluarkan tawa merdu yang membuat bulu roma Harry bangkit. Beberapa anggota Wizengamot lainnya ikut tertawa. Tidak bisa lebih jelas lagi bahwa tak seorangpun dari mereka benar-benar merasa lucu.

'Kalau benar bahwa Dementor hanya menuruti perintah dari Kementerian Sihir, dan juga benar bahwa dua Dementor menyerang Harry dan sepupunya seminggu yang lalu, maka secara logis seseorang di dalam Kementerian telah memerintahkan penyerangan itu,' kata Dumbledore dengan sopan. 'Tentu saja, Dementor yang dimaksud bisa saja berada di luar kendali Kementerian --'

'Tidak ada Dementir di luar kendali Kementerian!' sambar Fudge, yang telah menjadi semerah bata.

Dumbledore mencondongkan kepalanya sedikit tertunduk.

'Maka tidak diragukan lagi Kementerian akan melakukan penyelidikan menyeluruh mengapa dua Dementor berada sangat jauh dari Azkaban dan mengapa mereka menyerang tanpa disuruh.'

'Bukan kamu yang harus menentukan apa yang dilakukan atau tidak dilakukan Kementerian, Dumbledore!' sambar Fudge, sekarang berwarna magenta yang pasti membuat Paman Vernon bangga.

'Tentu saja bukan,' kata Dumbledore dengan enteng. 'Aku hanya menyatakan keyakinanku bahwa masalah ini tidak akan berlanjut tanpa diselidiki.'

Dia melirik Madam Bones, yang menyesuaikan letak kacamatanya dan menatap balik kepadanya sambil sedikit merengut.

'Aku akan mengingatkan semua orang bahwa perilaku para Dementor ini, kalau bukan potongan imajinasi anak ini, bukanlah subyek sidang dengar pendapat ini!' kata Fudge. 'Kita berada di sini untuk memeriksa pelanggaran Harry Potter terhadap Dekrit Pembatasan Masuk Akal bagi Penggunaan Sihir di Bawah Umur!'

'Tentu saja,' kata Dumbledore, 'tetapi kehadiran Dementor di gang itu sangat relevan. Pasal Tujuh dari Dekrit menyatakan bahwa sihir boleh digunakan di hadapan Muggle pada keadaan-keadaan luar biasa, dan karena keadaaan-keadaan luar biasa itu termasuk situasi yang mengancam nyama penyihir pria atau wanita itu sendiri, atau penyihir atau Muggle manapun juga yang ada pada saat --'

'Kami tahu betul isi Pasal Tujuh, terima kasih banyak!' geram Fudge.

'Tentu saja,' kata Dumbledore penuh sopan santun. 'Kalau begitu kita sepakat bahwa penggunaan Mantera Patronus oleh Harry dalam keadaan-keadaan ini jatuh persis ke dalam kategori keadaan-keadaan luar biasa yang digambarkan pasal tersebut?'

'Jika memang ada Dementor, yang kusangsikan.'

'Anda telah mendengarnya dari seorang saksi mata,' Dumbledore menyela. 'Kalau Anda masih meragukan kejujurannya, panggil dia kembali, tanyai dia lagi, aku yakin dia tidak akan keberatan.'

'Aku -- itu -- tidak --' gertak Fudge, sambil memainkan kertas-kertas di hadapannya. 'Itu -- aku ingin ini semua selesai hari ini, Dumbledore!'

'Tapi tentunya, Anda tidak akan peduli berapa kali Anda mendengar dari saksi mata, kalau alternatifnya adalah kegagalan menjalankan hukum yang serius,' kata Dumbledore.

'Kegagalan serius, topiku!' kata Fudge pada puncak suaranya. 'Pernahkah kamu bersusah-payah menjumlahkan semua cerita omong kosong yang telah dikeluarkan anak ini, Dumbledore, selagi mencoba menutup-nutupi penyalahgunaan sihir di luar sekolah yang menyolok olehnya? Kukira kau telah lupa Mantera Melayang yang digunakannya tiga tahun yang lalu --'

'Itu bukan aku, pelakunya peri-rumah!' kata Harry.

'KAU LIHAT?' raung Fudge, sambil memberi isyarat dengan semarak ke arah Harry. 'Peri-rumah! Dalam rumah Muggle! Kutanya kau.'

'Peri-rumah yang dimaksud sekarang dipekerjakan di Sekolah Hogwarts,' kata Dumbledore. 'Aku bisa memanggilnya ke sini dalam sekejap untuk memberi kesaksian kalau Anda mau.'

'Aku -- bukan -- aku tidak punya waktu untuk mendengarkan para peri-rumah! Lagipula, itu bukan satu-satunya -- dia menggelembungkan bibinya, demi Tuhan!' Fudge berteriak, sambil menghantamkan kepalannya ke bangku hakin dan membalikkan sebotol tinta.

'Dan Anda telah dengan sangat baik hati tidak mengajukan tuntutan pada saat itu, kuanggap, sambil menerima bahwa bahkan penyihir-penyihir terbaik sekalipun tidak dapat selalu mengendalikan emosi mereka.' kata Dumbledore dengan tenang, sementara Fudge berusaha mengosok tinta dari catatannya.

'Dan aku belum mulai lagi dengan apa yang dilakukannya di sekolah.'

'Tetapi, karena Kementerian tidak memiliki kuasa untuk menghukum murid-murid Hogwarts atas tingkah laku yang salah di sekolah, perilaku Harry di sana tidaklah relevan dengan dengar pendapat ini,' kata Dumbledore, masih sesopan tadi, tetapi sekarang ada rasa dingin di balik kata-katanya.

'Oho!' kata Fudge. 'Bukan urusan kami apa yang dia perbuat di sekolah, eh? Menurutmu begitu?'

'Kementerian tidak punya kekuasaan untuk mengeluarkan siswa-siswa Hogwarts, Cornelius, seperti yang kuingatkan kepadamu pada malam dua Agustus,' kata Dumbledore. 'Juga tidak mempunyai hak untuk menyita tongkat sihir hingga tuntutan telah dibuktikan dengan suksees; sekali lagi, seperti yang kuingatkan kepadamu pada malam dua Agustus. Dalam ketergesaanmu yang pantas dikagumi untuk memastikan hukum dijunjung tinggi, tampaknya kamu, kuyakin akibat kurang hati-hati, telah melupakan beberapa hukum itu sendiri.'

'Hukum bisa diganti,' kata Fudge dengan buas.

'Tentu bisa,' kata Dumbledore sambil mencondongkan kepalanya.'Dan jelas kamu telah banyak membuat perubahan, Cornelius. Mengapa, dalam beberapa minggu singkat sejak aku diminta meninggalkan Wizengamot saja, sudah menjadi prakteknya untuk mengadakan sidang kriminal penuh untuk mengatasi masalah simpel seperti sihir di bawah umur!'

Beberapa penyihir di atas mereka bergerak dengan tidak nyaman di tempat duduk mereka. Fudge sedikit berubah ke warna ungu kecoklatan yang lebih dalam. Namun penyihir wanita mirip katak di sebelah kanannya hanya menatap Dumbledore, wajahnya tidak berekspresi.

'Sejauh yang kutahu,' Dumbledore melanjutkan, 'belum ada hukum yang mengatakan menjadi pekerjaan sidang ini untuk menghukum Harry demi setiap sihir yang pernah dilakukannya. Dia telah dituntut untuk pelanggaran tertentu dan dia telah memberikan pembelaannya. Semua yang bisa dilakukannya dan aku hanyalah menanti keputusan kalian.'

Dumbledore menyatukan ujung-ujung jarinya lagi dan tidak berkata apa-apa lagi. Flure melotot kepadanya, jelas sangat marah. Harry melirik ke samping kepada Dumbledore, mencari penentraman; dia sama sekali tidak yakin bahwa Dumbledore bertindak benar dalam memberitahu Wizengamot bahwa sudah waktunya mereka mengambil keputusan. Namun, sekali lagi Dumbledore tampak tidak menyadari usaha Harry melihat ke matanya. Dia terus melihat ke bangku-bangku di mana keseluruhan Wizengamot telah mengadakan percakapan penting sambil berbisik-bisik.

Harry melihat ke kakinya. Jantungnya, yang tampaknya telah membengkak ke ukuran tidak alami, sedang berdebar dengan keras di balik tulang iganya. Dia telah mengharapkan dengar pendapat berlangsung lebih lama dari ini. Dia sama sekali tidak yakin dirinya telah memberi kesan yang baik. Dia sebenarnya belum banyak berbicara. Dia seharusnya menjelaskan lebih lengkap mengenai para Dementor, mengenai bagaimana dia jatuh, mengenai bagaimana dia dan Dudley hampir dicium ...

Dua kali dia melihat kepada Fudge dan membuka mulutnya untuk berbicara, tetapi jantungnya yang membengkak sekarang menekan jalan masuk udaranya dan dua kali itu dia hanya mengambil napas dalam-dalam dan menatap kembali pada sepatunya.

Lalu bisik-bisik itu terhenti. Harry ingin melihat kepada para hakim, tetapi menemukan bahwa jauh lebih mudah tetap memeriksa sepatunya.

'Yang setuju membebaskan tertuduh dari semua tuntutan?' kata suara menggelegar Madam Bones.

Kepala Harry tersentak naik. Ada banyak tangan di udara, banyak ... lebih dari setengah! Sambil bernapas dengan sangat cepat, dia mencoba menghitung, tetapi sebelum dia selesai, Madam Bones telah berkata, 'Dan yang ingin menghukum?'

Fudge mengangkat tangannya; demikian pula setengah lusin yang lainnya, termasuk penyihir wanita di samping kanannya dan penyihir pria berkumis lebat dan penyihir wanita berambut ikal di baris kedua.

Fudge memandang mereka sekilas, terlihat seolah-olah ada sesuatu yang besar tersangkut di kerongkongannya, lalu menurunkan tangannya sendiri. Dia mengambil dua napas panjang dan berkata, 'Baiklah, baiklah ... dibebaskan dari semua tuntutan.'

'Bagus sekali,' kata Dumbledore dengan cepat, sambil melompat berdiri, menarik keluar tongkatnya dan menyebabkan kedua kursi berlengan dari kain itu menghilang. 'Well, aku harus pergi. Selamat siang kepada kalian semua.'

Dan tanpa melihat satu kalipun kepada Harry, dia berjalan ke luar dari ruang bawah tanah itu. 

sumber: http://www.oocities.org/victoriajayjay/chapter08.html

It's just Me

Foto Saya
Agung Pramono
lelaki, suami, ayah, teman
Lihat profil lengkapku

Mapping

My Books